Program Penguatan Kompetensi Crisis Management Team dalam Mengelola Isu dan Krisis melalui Komunikasi Empatik, Strategis, dan Terintegrasi untuk Menjaga Kepercayaan Publik di Industri Perbankan
Industri perbankan merupakan sektor yang sangat bergantung pada kepercayaan (trust). Perkembangan media digital, tingginya ekspektasi nasabah, serta penyebaran informasi secara real-time menyebabkan sebuah isu operasional, layanan, keamanan data, fraud, maupun gangguan sistem dapat berkembang menjadi krisis reputasi hanya dalam hitungan menit. Dalam kondisi tersebut, keberhasilan organisasi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menyelesaikan akar permasalahan, tetapi juga oleh kualitas komunikasi yang mampu menunjukkan kepedulian, transparansi, dan akuntabilitas kepada seluruh pemangku kepentingan.
Berbagai studi menunjukkan bahwa reputasi perusahaan semakin dipengaruhi oleh cara organisasi merespons krisis. Laporan Edelman Trust Barometer secara konsisten menempatkan kepercayaan sebagai faktor utama yang memengaruhi loyalitas publik terhadap organisasi, sementara berbagai riset komunikasi krisis menegaskan bahwa respons yang cepat, empatik, dan konsisten berkontribusi signifikan dalam mengurangi dampak reputasi, menjaga hubungan dengan pelanggan, serta mempercepat proses pemulihan organisasi. Di sektor jasa keuangan, komunikasi yang kurang tepat bahkan berpotensi memicu eskalasi isu, meningkatnya keluhan nasabah, perhatian regulator, hingga penyebaran sentimen negatif di media sosial.
Program ini dirancang untuk meningkatkan kapabilitas Crisis Management Team dalam mengidentifikasi potensi isu, mengelola eskalasi krisis, menyusun strategi komunikasi yang empatik, serta menjaga kepercayaan publik melalui koordinasi lintas fungsi yang efektif. Pembelajaran difokuskan pada penerapan praktik terbaik yang relevan dengan karakteristik industri perbankan sehingga peserta mampu mengambil keputusan komunikasi secara tepat, terukur, dan selaras dengan kepentingan organisasi maupun para pemangku kepentingan.
Setelah mengikuti pelatihan ini, peserta diharapkan mampu:
Sesi 1 – Understanding Issues, Crisis & Reputation Risk in Banking
Sesi 2 – Crisis Assessment & Stakeholder Mapping
Sesi 3 – Emphatic & Caring Communication Strategy
Sesi 4 – Studi Kasus & Group Discussion
Aktivitas Praktis Hari Pertama
Learning Outcome Hari Pertama
Peserta mampu memahami dinamika issue dan crisis management, mengenali potensi risiko reputasi, serta menyusun strategi komunikasi yang empatik sesuai karakteristik stakeholder.
Sesi 1 – Crisis Communication Planning
Sesi 2 – Managing Media & Digital Communication
Sesi 3 – Crisis Simulation
Sesi 4 – Action Plan & Continuous Improvement
Aktivitas Praktis Hari Kedua
Learning Outcome Hari Kedua
Peserta mampu merancang dan mengimplementasikan strategi komunikasi krisis yang terkoordinasi, empatik, serta mendukung pemulihan reputasi dan kepercayaan publik.
Program ini direkomendasikan bagi:
Bagi Peserta
Bagi Perusahaan
Kondisi Ideal
Organisasi memiliki Crisis Management Team yang mampu mengidentifikasi potensi isu secara dini, melakukan koordinasi lintas fungsi secara efektif, serta menyampaikan komunikasi yang cepat, empatik, akurat, dan konsisten sehingga kepercayaan publik tetap terjaga meskipun organisasi menghadapi situasi krisis.
Kondisi Faktual
Pada praktiknya, banyak organisasi masih berfokus pada penyelesaian aspek operasional krisis, sementara strategi komunikasi belum terintegrasi dengan baik. Ketidakkonsistenan pesan, lambatnya respons, kurangnya koordinasi antarunit, serta rendahnya kesiapan menghadapi tekanan media dan media sosial sering kali memperbesar dampak reputasi, meningkatkan ketidakpastian publik, dan memperlambat proses pemulihan organisasi.
Metode Penyampaian
Pembelajaran disampaikan melalui presentasi interaktif, diskusi kelompok, studi kasus industri perbankan, analisis kasus nyata, simulasi penanganan krisis, role play komunikasi kepada stakeholder, praktik penyusunan Crisis Communication Plan, serta penyusunan rencana implementasi yang dapat diterapkan di lingkungan kerja.
Metode Evaluasi
Efektivitas pembelajaran diukur melalui pre-test dan post-test, observasi partisipasi selama diskusi dan simulasi, penilaian terhadap penyelesaian studi kasus, evaluasi hasil Crisis Communication Plan yang disusun peserta, serta penyampaian rekomendasi implementasi sebagai tindak lanjut pascapelatihan.
Ferry Basudewo merupakan praktisi senior dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di industri perbankan dan jasa keuangan. Beliau pernah menjabat sebagai Senior Vice President di HSBC, RBS Bank, Chinatrust Bank, dan Bank Andara, serta Vice President di ABN AMRO Bank.
Memiliki pengalaman dalam consumer banking, wealth management, customer lifecycle management, serta pengelolaan risiko, Ferry aktif sebagai trainer sejak tahun 2000 dan merupakan anggota ASEAN Coach & Trainer – Mercuri International Kuala Lumpur. Peserta akan memperoleh perspektif implementatif yang berasal dari pengalaman langsung di industri jasa keuangan.
Untuk memperoleh informasi lebih lanjut mengenai penyelenggaraan program, penyesuaian materi sesuai kebutuhan organisasi, maupun pelaksanaan In-House Training, silakan menghubungi MDP Consulting. Program dapat disesuaikan dengan karakteristik industri, kebijakan perusahaan, tingkat kompetensi peserta, serta tantangan bisnis yang dihadapi agar pembelajaran memberikan dampak yang relevan terhadap peningkatan kinerja organisasi.
Copyright
© MDP Consulting. Seluruh materi, struktur program, dan modul pelatihan dalam dokumen ini disusun untuk kepentingan pengembangan kompetensi organisasi dan dilindungi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai hak cipta. Penggunaan, penggandaan, maupun distribusi sebagian atau seluruh isi dokumen tanpa persetujuan tertulis dari MDP Consulting tidak diperkenankan.
MDP Consulting